OLYMPIADE MATEMATIKA UNAIR

OLYMPIADE MATEMATIKA yang diselenggarakan oleh UNAIR Surabaya di SMPN 3 Madiun tanggal 7 Pebruari 2010 diikuti oleh 145 regu dari berbagai kota berlangsung meriah. Dari 145 regu tersebut di ambil 13 regu untuk mengikuti seleksi seperempat final di Kampus Unair di Surabaya pada tanggal 21 Pebruari 2010.
SMPN 2 Parang masuk dalam ke 13 besar tersebut yang diwakili oleh Anggit Kurniawan dan Pandu Masrullah.
Majulah terus SPARDA dan buatlah bendera SPARDA berkibar dengan bangga di langgit Nusantara.!
»»  read more

The story of Hero certified "Master Professional"


Borrowing the phrase Ihksan Gunadi "If there is now a teacher certification, then it means being a teacher was recognized as a profession, not the article without meaning. Consequently, teachers must work in a professional, rather than perfunctory.. Salary, must also go beyond the professional level than propriety and feasibility. ". This is what makes the heart aroused, restless, and raises many questions in the midst of our education is being settled.
The philosopher Cicero once asked in his book, "Work is a more precious or more valuable to the state rather than to teach the growing generation? This rhetorical question that always inspires awareness of teachers to devote themselves as the nation's efforts to educate children. Profile of teachers as a lamp in the darkness for the birth of human resource development pinned inspire noble title "unsung hero".
Teacher Who?
In language teacher comes from the Sanskrit, gur-u which means noble, quality, excellence and have respected.. Message in a Javanese word meaning that the teacher's words and deeds are always noticed has always been exemplary.
Teachers in the present era?
Era has changed, cornering globalization teacher status as a marginalized profession. Teachers with all the limitations of economic and technological impediment finally cornered by the language of cynicism "has litle brains and less money" or the teacher was late figures and poor thinkers.
Furthermore, teachers incontruction bad opinion of all teachers who all left behind, left-date information in the field, tech skills, and weak in exploring knowledge. So in various classrooms that backwardness inherited to their students.
Not to mention the bureaucratic circles, the position of assistant teachers were like before the employer.
Dramatized the teaching profession as a life option that far from the affluent to enjoy the material as other professional jobs. This phenomenon is causing a lack of interest young people to make teacher quality a favorite idealsTeaching profession became the expiration of livelihood. Ironically, the teacher also accused of causing bad quality of education in this country. Even the beginning of each school year often told the media that the teacher is the main sinner who causes the high cost of school. Money building levies, uniforms, textbooks, supplementary textbooks, and all other financial scenarios considered as teachers to enrich themselves. This condition in fact discredit teachers very bitter, politically oppressed, economically squeezed, and slowly but surely marginalized from the social status of the community.
It is time the education bureaucracy humbly admit that their job is limited to providing support to teachers in implementing educational programs better. Teachers are central figures in education should be encouraged, not burdened by administrative tasks, which are not politically important, there is not even relation with educational affairs.
What government action against the melancholy fate of blurred portrait of teachers?
The government seemed aware of his negligence in the marginalize the teaching profession, the government and parliament are now beginning to clean up. Great hope for improving the teacher's fate hung in the implementation of Law No. 14 of the teacher is in good faith to regulate and guarantee the protection, welfare and professionalism of teachers. After going through academic qualifications, pedagogical and certification of the return is earning twice the salary will be guaranteed to improve the welfare of his life.
But it is not simply increasing the target income, the professionalism of teachers is the final destination before delivering the child to be excellent and capable talent to manage this country. This commitment is not only monopolized by the central government with its strategic plan, along with the decentralization initiative to fix the various elements of education is also a commitment of local governments.
It was time to humbly acknowledge our education bureaucracy that their job is limited to providing support to teachers in implementing educational programs better. Teachers are central figures in education should be encouraged, not burdened by administrative tasks, which are not politically important, there is not even relation with educational affairs.
Education bureaucracy do not have anymore pressure, threats, and the subjugation of the teachers are smart, creative. critical -constructive teachers do not have to be finished via the education bureaucracy. Teachers like this do not deserve ended his career but instead are motivated to be more creative and more proactive intelligence to develop students so diverse.
Finally, teachers with a certificate labeled, can run with more professional profession, and properly understand professional trust . Good!
»»  read more

KISAH PAHLAWAN BERSERTIFIKAT “GURU PROFESIONAL”


Meminjam kalimat saudara Ihksan Gunadi “Jika sekarang ada sertifikasi guru, maka itu artinya keberadaan guru sudah diakui sebagai profesi, bukan kata sandang tanpa makna. Konsekuensinya, guru harus bekerja secara profesional, bukan ala kadarnya. Gaji yang diterima, juga harus bertaraf profesional yang melampaui dari sekedar kepantasan dan kelayakan.”. Inilah yang membuat hati tergelitik , resah, dan memunculkan berbagai tanya ditengah –tengah dunia pendidikan kita yang sedang berbenah.
Filsuf Cicero dalam bukunya pernah bertanya,”Pekerjaan apakah yang lebih mulia atau yang lebih bernilai bagi negara daripada mengajar generasi yang sedang tumbuh? Pertanyaan retoris inilah yang selalu menggugah kesadaran guru untuk mengabdikan diri sebagai upaya mencerdaskan anak bangsa. Profil guru sebagai pelita dalam kegelapan bagi lahirnya sumber daya insani pembangunan menginspirasi penyematan gelar mulia “Pahlawan tanpa tanda jasa”.

Siapakah Guru?
Secara bahasa guru berasal dari bahasa sanskerta , gur-u yang berarti mulia, bermutu, memiliki kehebatan dan dihormati. Itulah sebabnya guru iku digugu omongane lan ditiru kelakoane. Pesan dalam bahasa jawa yang mengandung makna bahwa guru itu perkataannya selalu diperhatikan dan perbuatannya selalu menjadi teladan.

Bagimana Guru di era sekarang?
Jaman telah berubah, arus globalisasi menyudutkan status guru sebagai profesi yang terpinggirkan. Guru dengan segala keterbatasan ekonomi dan kegagapan teknologi akhirnya tersudutkan oleh bahasa sinis “has litle brains and less money” atau guru hanyalah sosok yang telat mikir dan fakir.
Selanjutnya, guru dikontruksi dalam opini yang serba buruk yaitu guru-guru yang serba tertinggal, tertinggal informasi mutakhir dalam bidangnya, tetinggal kecakapan berteknologi, dan lemah dalam menggali pengetahuan. Maka di ruang kelas aneka ketertinggalan itulah yang diwariskan kepada siswanya.
Belum lagi dalam lingkar birokrasi, posisi guru tak ubahnya pembantu di hadapan majikan.
Profesi guru didramatisir sebagai pilihan hidup yang jauh dari berkecukupan untuk dapat menikmati materi layaknya pekerjaan profesional lainnya. Fenomena ini menyebabkan kurangnya minat anak muda berkualitas untuk menjadikan guru sebagai cita-cita favoritnya. Profesi guru menjadi mata pencaharian yang kadaluwarsa. Ironisnya, sang guru juga menjadi tertuduh dari penyebab terpuruknya mutu pendidikan di negeri ini. Bahkan tiap awal tahun pelajaran kerap kali dilansir oleh media bahwa guru adalah pendosa utama yang menyebabkan mahalnya biaya sekolah. Pungutan uang gedung, seragam, buku pelajaran, pelajaran tambahan, dan segala keuangan lainnya dianggap sebagai skenario guru untuk memperkaya diri. Kondisi ini memojokkan guru dalam kenyataan teramat pahit, tertekan secara politis, terjepit secara ekonomis, dan pelan tapi pasti terpinggirkan dari status sosial masyarakat.
Sudah saatnya dengan rendah hati birokrasi pendidikan mengakui bahwa tugas mereka adalah sebatas memberikan dukungan pada guru dalam menjalankan program pendidikan yang lebih baik. Guru adalah sosok sentral dalam pendidikan yang harus didorong, bukan dibebani oleh tugas-tugas administratif-politis yang tidak penting, bahkan tidak ada kaitannyan dengan urusan pendidikan.


Apa tindakan nyata pemerintah terhadap potret buram nasib pilu guru?

Pemerintah seakan sadar akan kealpaannya dalam memarginalkan profesi guru, maka pemerintah beserta DPR kini mulai berbenah. Harapan besar terhadap perbaikan nasib guru digantungkan pada implementasi UU Nomor 14 tentang guru adalah itikad baik untuk mengatur dan memberikan jaminan terhadap perlindungan, kesejahteraan dan profesionalisme guru. Setelah melalui kualifikasi akademik, pedagogik, dan sertifikasi maka imbalannya adalah penghasilan dua kali lipat gaji akan menjadi jaminan peningkatan kesejahteraan hidupnya.
Tetapi bukan semata meningkatnya penghasilan yang menjadi targetnya, profesionalisme guru adalah tujuan akhir sebelum mengantarkan anak bangsa menjadi talenta unggul dan cakap mengelola negeri ini. Komitmen ini tidak hanya dimonopoli oleh pemerintah pusat dengan berbagai rencana strategisnya, seiring dengan otoda inisiatif membenahi berbagai elemen pendidikan juga menjadi komitmen pemerintah daerah.
Sudah saatnya dengan rendah hati birokrasi pendidikan kita mengakui bahwa tugas mereka adalah sebatas memberikan dukungan pada guru dalam menjalankan program pendidikan yang lebih baik. Guru adalah sosok sentral dalam pendidikan yang harus didorong, bukan dibebani oleh tugas-tugas administratif-politis yang tidak penting, bahkan tidak ada kaitannyan dengan urusan pendidikan.
Birokrasi pendidikan tidak usah lagi melakukan tekanan, ancaman, dan penundukan kepada guru yang cerdas, kreatif. Guru kristis-konstruktif tidak harus dihabisi melaui birokrasi pendidikan. Guru seperti ini tidak layak diakhiri karirnya tetapi sebaliknya dimotivasi agar lebih kreatif dan lebih proaktif mengembangkan kecerdasan siswa-siswanya yang begitu majemuk.
Akhirnya guru dengan berlabel sertifikatnya, dapat menjalankan profesinya dengan lebih professional, dan mengerti secara benar amanah keprofesionalanya. Semoga !
»»  read more

PERPUSTAKAAN SPARDA BERBENAH

Alhamdulillah itulah kata yang senantiasa kami ungkapkan, warga Sparda pantas bersyukur karena pada tahun pelajaran 2009/2010 ini Perpustakaan Sparda mendapat Subsidi untuk pengadaan sarana Teknologi Informasi, yang berupa 5 unit komputer,printer multi fungsi,UPS,Instalasi jaringan wireless dan perangkat penyimpan data. Dengan adanya sarana TI tersebut tentunya Perpustakaan Sparda semakin lebih baik dalam upaya memfungsikan Perpustakaan sebagai Pusat Sumber Belajar bagi peserta didik dan tenaga pendidik dan kependidikan di SMP Negeri 2 Parang.
Dengan dimulainya pelaksanaan belajar mengajar pada semester ganjil tahun pelajaran 2009/2010 ini, seluruh petugas perpustakaan Sparda dengan penuh dedikasi menata, mengatur ruangan perpustakaan, agar nantinya benar-benar siap dalam mengoperasikan sarana Teknologi Informasi yang dapat dipergunakan sebaik-baiknya oleh seluruh peserta didik dan para pendidik dan tenaga kependidikan di SMP Negeri 2 Parang. Terima Kasih kepada seluruh warga Sparda semoga kualitas pendidikan di lingkungan Sparda semakin moncer.
»»  read more

DETIK-DETIK “KIAMAT “ DUNIA PENDIDIKAN


Sekarang ini Negara kita sedang melakukan revolusi pendidikan besar-besaran untuk berlomba-lomba menghasilkan sumber daya-sumber daya manusia unggul dan kompetetitip. Sektor pendidikan telah dijadikan aspek maha penting dan senjata utama untuk menguasai dunia. Pada saat negara-negara lain sedang berlari kencang dan cepat melakukan revolusi pendidikan, negeri kita baru sedang mulai berusaha berjalan dengan tubuh luka, lemas dan tertatih tatih. Segudang kebijakan dan obat telah digelontorkan oleh pemerintah untuk memperbaiki penyakit di dunia pendidikan kita baik menyangkut sarana, pra sarana, kurikulum, evaluasi, media pengajaran, buru, dana oprasional sekolah, siswa, partiasipasi masyarakat maupun guru.
Dari sejuta obat yang diproduksi untuk mengobati sakitnya dunia pendidikan kita, maka ada salah satu obat yang menjadi akar sakitnya dunia pendidikan kita yaitu, kondisi kualitas guru. Banyak gelar yang dialamatkan untuk menunjukan betapa maha pentingnya guru dalam menentukan kualitas pendidikan, seperti, “guru sebagai agen perubahan siswa”, “guru sebagai ujung tombak pendidikan”, dan “guru ujung tombak pencerdasan bangsa”. J Drost (2001) sempat menyatakan bahwa diantara agenda utama perbaikan pendidikan, sangat ditentukan oleh bagaimana cara guru mengajar di depan kelas.
Namun ada beberapa masalah yang dihadapi oleh sebagian besar para guru kita seperti, rendahnya kesejahteraan guru, lemahnya penguasaan materi ajar, tumpulnya metode dan media pengajaran, lemahnya evaluasi pengajaran, lemahnya pemahaman psikologi pendidikan dalam pengajaran, kurangnya etos membaca dan menulis karya para guru, kurangnya reference untuk pengembangan pembelajaran, lemahnya penyusunan administrasi pengajaran serta lemahnya guru dalam penguasaan teknologi informasi pembelajaran. Segudang kompetensi itu sangatlah penting dalam mentransfer ilmu dan nilai-nilai kehidupan bagi kecerdasan dan keshalihan anak-anak didik. Maka itu wajar kalau istilah yang penulis gunakah yaitu “kiamat pendidikan”, karena guru sebagai faktor pembentukan kepintaran dan kecerdasan anak-anak kita memilki segudang masalah. Bahayanya kiamat pendidikan ini akan berujuang pada tidak mampunya siswa menampilkan kecerdasan yang membanggakan serta belum bisa menampilkan perilaku akhlakul karimah. Kalau keadaan anak-anak kita saat ini seperti itu, maka masa depan bangsa kita benar-benar dalam keadaan yang mengarah kepada kehancuran.
Menyadari itu, maka pemerintah mengeluarkan obat untuk memperbaiki lemahnya kompetensi guru dengan terbitnya kebijakan “sertifikasi” bagi seluruh guru. Ditambah lagi dengan semakin dimanjakannya sektor pendidikan yang dilakukan oleh pemerintah dengan semakin banyaknya anggaran bagi pendidikan. Angin segar nan surgawi sertifikasi guru dan diprioritaskannya pendidikan memunculkan perubahan persefsi tentang status profesi guru yang lebih menjanjikan masa depan. Maka seperti sebuah booming bagi guru dengan serta merta para guru kita harus melakukan loncatan karir keguruan dengan harus mengikuti program sarjana agar bisa mengikuti sertifikasi, dan sebanyak mungkin menumpuk sertifikat kegiatan seminar, diklat, atau work shop.
Namun sayang, “virus” mental menghinggap di sebagian besar jiwa guru kita yaitu “virus instan dan pragmatisme” benar-benar menggerogoti jiwanya. Untuk mengejar gelar sarjana banyak yang mengikuti dan memilih perguruan tinggi yang bermazahab “pragmatisme” , dengan motonya UTS, UAS, skripsi bisa beli dan “gampang serta cepat beres kuliah” dan cepat mendapat ijazah sarjana. Praktik yang secara umum dilakukan oleh “perguruan tinggi kelas jauh” ini laris manis bak jualan kacang goreng, karena menjanjikan sejuta kemudahan agar cepat gelar sarjana. Wajar kalau kemudian, dirjen dikti atau Direktorat Pendidikan Tinggi mengeluarkan “larangan keras (haram) kelas jauh” dengan ancaman ijazah Perguruan Tinggi kelas jauh dan tidak terakreditasi tidak bisa mengikuti sertifikasi dan penyesuaian kepangkatan.
Larangan ini berangkat dari banyaknya fenomena praktik “mapia pendidikan” dengan jalur tol cepat tanpa melalui proses akademik yang sesuai dengan aturan. Sangat mengerikan kalau program sarjana bisa selesai dengan hanya satu tahun setengah atau dua tahun. Bahkan yang mengerikan mereka sanggup membeli ijazah dengan sejuta kedok seremonial akademik dan bisnis skripsi atau tesis “. Hasilnya dari sebuah sistem akademik yang bobrok tentu akan menghasilkan sumber daya guru yang bobrok kompetensinya. Belum lagi proses penumpukan sertfikat seminar atau kegiatan bisa juga melalui jalur “pragmatisme” . Bisa membeli sertfikat seminar atau pelatihan kepada panitia, sementara guru tidak mengikuti kegiatannya. Padahal kegiatannya mungkin baik untuk memberikan penambahan wawasan pendidikan dan pengajaran, hanya sebagian guru enggan mengikutinya dengan alasan cape dan bosan. Yang penting mah dapat sertifikat untuk sertifikasi.
Proses akademik program sarjana dan seminar yang bertujuan untuk menambah kompetensi para guru, akhirnya karena tidak dilakukan sesuai dengan tata aturan Perguruan Tinggi yang benar, maka hanya menghasilkan kompetensi profesi guru yang tetap saja rendah bahkan nyaris tidak ada pengaruhnya pada sikap profesi maupun akhlak. Bisa ditebak, arah kiamat pendidikan dengan ini akan begitu sangat cepat terjadi. Dengan rendahnya kompetensi profesi dalam pendidikan dan pengajaran, maka proses belajar mengajar di kelas tidak akan maksimal. Karena guru rendah dalam penguasaan kurikulum, materi dan metode pembelajaran, maka transfer teori-teori ilmu kepada para siswa tidak akan optimal, sehingga siswa tidak mampu menguasai materi keilmuan. Karena rendahnya penguasaan teori keilmuan para siswa, akhirnya siswa kita rendah dalam kompetensi keilmuannya. Akhirnya, dalam ujian nasional dibentuk tim sukses yang bertugas mendongkrak nilai kelulusan para siswanya. Karena rendah kualitas SDM maka ia sulit bersaing dalam kehidupan dan selalu kalah dalam medan pertempuran sumber daya manusia.
Karena guru rendah dalam proses transfer nilai-nilai kearifan hidup dan ketauladanan akhlak, maka siswa sulit mendapat resapan-resapan nilai yang bertujuan membentuk akhlak karimah. Maka wajar kalau prestasi kebobrokan akhlak para siswa pun sangat hebat misalnya, angka sek bebas dan aborsi pelajar semakin membumbung tinggi, kriminalitas dan tawuran remaja semakin menjadi-jadi, rendahnya etos intelektual, dan konsumsi narkoba remaja membumbung tinggi, serta menyebarnya virus-virus sekulerisme. Inilah bentuk-bentuk kiamat pendidikan yang sangat dahsyat yang sangat mempengaruhi kualitas pendidikan dan nasib masa depan bangsa. Karena itu penulis menggunakan kata “menanti”, karena sepertinya virus “budaya pragmatisme dan intanisme” semakin menggerogoti dan menjalar ke seluruh aspek profesi guru.
Bahkan virus penyakit itu dipelihara dan dikembangbiakan dengan dikelolalnya praktik perguruan tinggi kelas jauh yang pragmatis dan “mirip mapia pendidikan”, yang jelas sudah dilarang oleh Dirjen pendidikan Tinggi. Yang lebih ironis pengelolaannya dilakukan oleh mengaku para pendidik dan oknum birokrasi pendidikan, serta dijanjikan dan dimimpikan para mahasiswanya untuk bisa diangkat menjadi CPNS. Wajar kalau pendidikan kita terus semakin jatuh pada titik kualitas rendah, karena yang menghancurkan pendidikan adalah para pendidik yang melakukan praktik mapia pendidikan yang konon mencetak calon guru. Kiamat dunia pendidikan semakin cepat terjadi, jika melihat data Balitbang Depdiknas 32 % guru SD, SMP, dan SMU yang layak mengajar. 68% guru tidak layak mengajar.
Disinilah berlaku hukum ekonomi, semakin banyak permintaan “pragmatisme pendidikan”, maka semakin tumbuh subur perguruan tinggi kelas jauh yang mirip “teroris pendidikan” . Sepertinya virus itu sulit dimatikan dengan obat berdosisi tinggi dan keras sekalipun. Mengerikan. Akhirnya, kiamat dunia pendidikan hanya tinggal menanti detik-detik kehancurannya. Selama guru yang mempunyai virus pragmatis dan instan serta perguruan tinggi bergaya “mapia pendidikan” belum “taubatan nasuha” . Akhirnya, masa kini dan mendatang anak-anak bangsa kita semakin dalam jurang kehancuran. Mari kita memperlambat laju kiamat pendidikan dengan cara bertaubat menyadari gelimang lumpur dosa dalam praktik mapia pendidikan, serta bertekad mengikuti aturan tata akademik yang benar. Apalah arti selembar ijazah sarjana dan sertifikat jika itu dibangun dengan tangan-tangan zalim dan kotor. Yakin bahwa ilmu yang didapat tidak akan menjadi hikmah bagi diri sendiri dan anak-anak didik kita. Walau bagaimanapun kita harus berani melaut dengan perahu layar dan dayung apa adanya, sekalipun dengan resiko hancur dan tenggelam. Wallahu ‘alam bisawab.
»»  read more

Siswa Sparda meraih Juara II dalam Lomba Gerak JalanNapak Tilas Ngunut-Parang Magetan Tahun 2009


memperingati Hari Jadi Kabupaten Magetan , salah satu kegiatan yang dilaksanakan untuk memeriahkan HUT Kabupaten Magetan tersebut adalah Lomba Gerak Jalan Napak Tilas dari Desa Ngunut Parang menuju Magetan,sejauh kurang lebih 17 Km.Peserta kegiatan Napak Tilas tersebut diikuti oleh perwakilan dari berbagai unsur dinas instansi termasuk sekolah-sekolah di kab.Magetan serta unsur masyarakat luas yang mengikuti secara perorangan. Spardapun juga tidak ketinggalan ikut berpartisipasi dalam Gerak Jalan Napak Tilas tersebut. Dan Alhamdulillah siswa-siswa Sparda dapat memperoleh Juara kedua dalam lomba tersebut. Selamat untuk Sparda.
»»  read more